Archive for the ‘Kisah Biasa’ Category

Teori Prokrastinasi

27 November, 2008

Yang mungkin sama sekali tidak berbeda dengan teori prokrastinasi lainnya. Tapi biarlah.

1.1 Latar Belakang

Saya menyadari ketika saya sedang menunda-nunda pekerjaan, ada sebuah urutan tertentu yang saya tempuh dalam melakukan kegiatan yang berfungsi untuk mengalihkan perhatian saya dari pekerjaan yang bersangkutan.

1.2 Ruang Lingkup

Saya hanya akan meneliti kondisi ketika tenggat waktu pekerjaan tidak begitu dekat. Semakin dekat dengan tenggat waktu, dorongan eksternal untuk segera mengerjakan dengan terpaksa akan semakin besar dan saya khawatir itu akan mempengaruhi keobjektifan pengamatan.

1.3 Sasaran Penelitian

Saya membatasi penelitian pada kegiatan-kegiatan sederhana yang bisa dilakukan di rumah. Hobi lain yang memakan waktu seperti hiking dan nge-band tak akan dibahas karena, di samping memakan waktu, memiliki kondisi lingkungan tidak stabil dan lantas memiliki resiko mempengaruhi kondisi mental secara acak.

1.4 Metodologi

Pengamatan terhadap diri sendiri yang dilakukan seraya menulis sebuah artikel di blog.

2.1 Langsung saja, ah…

Jadi, beginilah urutan kegiatan prokrastinasi saya berdasarkan prioritas:

  1. Membaca
  2. Menonton
  3. Bermain
  4. Menulis
  5. Membuat lagu
  6. Menggambar

Konkretnya begini: ketika saya hendak mengerjakan sebuah pekerjaan wajib, saya akan ingat bahwa ada buku yang belum selesaikan dan membacanya dulu. Ketika bukunya habis, saya teringat film-film yang belum ditonton dan melakukannya. Bosan menonton, saya bermain game. Demikian seterusnya.

Sadarlah saya bahwa urutan ini datang dari pertimbangan kemudahan vs. beban. Mengambil buku atau membuka situs untuk membaca tentunya jauh lebih mudah daripada menginvestasikan setengah sampai tiga jam untuk menonton film. Sebaliknya, mencari peralatan gambar saja sudah memerlukan waktu tersendiri, ditambah kenyataan bahwa saya termasuk seorang perfeksionis yang sebenarnya tak bisa menggambar, kadang kegiatan ini malah menjadi beban.

Menarik: kegiatan menulis cerita fiksi atau analisis bodoh menduduki peringkat keempat dalam urutan “kemudahan” dan ketiga dalam urutan “beban” dari seluruh kegiatan-masa-senggang-padahal-sebenarnya-tidak-senggang. [pembenaran]Mengingat banyaknya buku/film/game yang saya miliki, jelas saja blog ini jarang ter-update[/pembenaran]

Di samping itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa prokrastinasi sebenarnya sangat bermanfaat untuk menyelesaikan aktifitas-aktifitas yang tertunda dan berkarya. Saya rasa metode ini sangatlah efektif untuk, sesuai frase yang terkenal itu, live the life to the fullest.

Hidup prokrastinasi!

***

PS: Artikel ini tidak ditulis dalam rangka menunda pengerjaan proyek multimedia yang tenggat waktunya sudah semakin dekat. Sungguh.

Fitnah Lebih Kejam Daripada…?

24 Agustus, 2007

KeluhBeberapa waktu yang lalu saya mendengar sebuah khotbah sebelum Salat Jum’at yang saya rasa isinya cukup menarik untuk diceritakan. Harap diingat bahwa saya menulis ini berdasarkan ingatan belaka sehingga isinya mungkin kurang akurat. Versi yang saya tulis juga merupakan versi yang sudah diringkas. Meskipun begitu, saya hanya mencantumkan hal-hal yang saya yakin saya dengar.

Disertai monolog batin saya ketika mendengarnya ยป

Tidak Semua Hal Ada Rumusnya

28 April, 2007

Judul yang aneh. Ya, judul memang biasa saya pikirkan terakhir jadi kadang saya menyusunnya sekenanya. Dan ya, ini berarti paragraf yang satu ini juga sebenarnya saya tulis terakhir. Jadi, euh, mungkin saya harus mulai masuk ke tujuan utama tulisan ini, ya? Baiklah, untuk mengilustrasikan inti yang sebenarnya sangat sederhana ini, saya akan mengawalinya dengan sebuah cerita.

Saya seringkali dibuat bingung oleh satu hal. Bagi sebagian besar orang, pastinya hal ini adalah hal yang sangat sederhana; saya sendiri malu mengakuinya. Saya bingung kalau ada orang yang memuji saya.

The ThinkerHei! Tunggu, jangan pergi dulu! Saya serius. Masalah ini cukup gawat bagi saya. Ini adalah dilema yang lebih besar daripada yang dialami “The Thinker” ketika ia kehilangan bajunya. Apa? Itu perbandingan yang tidak tepat? Biarlah, tidak usah Anda pikirkan hal tersebut dan konsentrasikan saja pikiran Anda pada kisah berikut.

(more…)