Mati

Di jalur antara Thredbo dan Sydney, dekat dua belas malam, bis yang saya tumpangi berhenti. Dari balik jendela terlihat lampu polisi berkedap-kedip merah-biru. Saya, memaklumi hal ini sambil setengah terjaga, kembali terlelap.

Saya tersadar sepenuhnya lama setelahnya. Bis itu masih berhenti. Ambulans yang terparkir di sebelah dan mobil yang ringsek di parit depan membuat saya mengerti: ada kecelakaan. Supir bis sedang berbicara dengan seorang petugas di luar. Para penumpang terlihat menunggu dengan gelisah, sampai akhirnya sang supir kembali dan berkata, “It’s going to take some time, folks. I think a lady died in there.

Seorang perempuan di belakang saya langsung menangis. Dia akan terlambat menemui ibunya, jelasnya di tengah isakan.

Seorang pria menghampiri saya, bertanya macam-macam dan bergegas keluar. Mau memotret, katanya.

Sedangkan saya? Saya berusaha sebisanya untuk bersedih. Namun saya gagal.

Yang saya inginkan bukanlah monolog eksistensial atau pengamatan sosio-psikologi, meski mereka tetap menyergap. Tak perlu pilu yang menghantam tanpa ampun, meremas sampai tak bersisa dan mengeringkan mata.

Cukup sedih yang menitik, dilontarkan oleh empati. Tanpa tendesi maupun pretensi, tanpa khawatir akan kepantasan dan konformitas. Tak bisa kah? Gugah yang datang hanya karena rasa persamaan antar manusia, antar makhluk hidup? Haruskah semua hadir hanya lewat pemahaman? Saat itu, saya ingin menjadi orang yang sederhana.

Sang supir meminta maaf atas nama perusahaannya mengenai keterlambatan jadwal bis.

Dua anak berdiri di jalan, saling memeluk, penuh air mata. Mungkin ibu mereka yang ada di dalam sana.

Dan saya berusaha untuk bersedih. Namun saya gagal.

Yang ada hanya kecewa.

Iklan

11 Tanggapan to “Mati”

  1. sora9n Says:

    Umumnya, Anda hanya perlu membayangkan diri sebagai salah satu dari kedua anak itu (atau bayangkan yang meninggal itu ibu/tante/kakak Anda). Nanti kesedihan itu akan mengalir sendiri. πŸ˜‰

    Jika masih tidak mempan… well, mungkin Anda punya kecenderungan non-attachment yang terlalu tinggi? ^^a

  2. S. mcduck Says:

    Ah, tapi di situ lah batasnya saya tarik. Bukankah dengan begitu, kita telah melenceng keluar dari jalur empati dan memasuki jalur khayalan? Justru menjadikan kedua anak itu elemen yang tak penting? “Saya sedih bukan karena ada dua anak kehilangan ibunya, namun karena saya membayangkan skenario yang mirip dengan apa yang dialami kedua anak itu bagi diri saya sendiri?”

    Dan akhirnya berbalik ke ego, bukan ketulusan.

  3. sora9n Says:

    ^

    Tapi, bukannya empati itu sendiri intinya:

    Empathy is the capacity to recognize or understand another’s state of mind or emotion. It is often characterized as the ability to “put oneself into another’s shoes”, or in some way experience the outlook or emotions of another being within oneself.

    ~ katanya wikipe. πŸ˜›

    IMHO, kuncinya ada di bagaimana kita concern pada well being orang lain. Saya rasa, sejauh Anda punya concern pada mereka yang menderita, harusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. πŸ˜€

    Ah, tapi di situ lah batasnya saya tarik. Bukankah dengan begitu, kita telah melenceng keluar dari jalur empati dan memasuki jalur khayalan? Justru menjadikan kedua anak itu elemen yang tak penting?

    Tidak juga, IMO. Sebab,

    1) Saya tahu peristiwa X menyedihkan
    2) Anak-anak itu mengalami peristiwa X

    3) Karena saya tahu peristiwa X itu menyedihkan, maka saya bisa merasakan penderitaan kedua anak tsb.

    Alhasil:

    4) Saya jadi bersimpati pada mereka. Tulus lho. πŸ˜‰

     

    Jadi “membayangkan diri sendiri” itu sekadar proyeksi saja. Sedangkan poin utamanya di (3) dan (4) — yakni “saya bersimpati karena mereka harus menanggung beban tersebut”. πŸ™‚

  4. sora9n Says:

    Lha? Komentar saya dari kemaren masih nyangkut di moderasi? (o_0)”\

  5. S. mcduck Says:

    Oh, ada? Maaf, maaf. (masih tidak mengerti mengapa ada yang masuk moderasi ada yang tidak)

    Mungkin yang saya cari adalah sesuatu yang otomatis. Yang tak perlu dirasionalisasi sebelum terjadi. Tentunya saya mengerti sedihnya kehilangan. Namun karena itu, pada akhirnya yang terjadi justru “untung bukan saya.”

  6. Jabizri Says:

    mengerikan…

  7. LEO Says:

    pak soran9
    empati dan simpati menurut literatur stensil yang saya pernah baca katanya berbeda pak. kalo simpati kita pakai jarak dengan objek yang dilanda kesusahan ‘…kasihan ya kamu’, tapi kalo empati kita ikut mnyelami perasaan sang objek ‘aduh saya bisa ikut merasakan’

    dan empati terutama, membutuhkan daya khayal yang tinggi pak mcduck. saya sepakat itu (kata orang, karena saya kebanyakan pake kepala, dan ga pake hati… so what?)

  8. luthfox Says:

    Ya gak usah terlalu worry lah. Dalam segi moral, menurut aku bukannya perasaan menyesal karena gagal merasakan itu sudah merupakan seni empati tersendiri?? bahkan begitu rajin untuk pengalaman konflik batin ini dibawa ke blog, bukannya “the answer is just right here”?

  9. Lumiere Says:

    saya kok malah kasihan sama yg nulis positngan ini yah πŸ˜•

  10. kazasou Says:

    Anda tidak bisa meninggalkan ego dalam hal ini karena pada dasarnya manusia adalah makhluk egois. Tidak usah kecewa karena ini adalah normal. Lebih mulia anda tidak hipokrit dengan memaksakan untuk bersedih atas ego anda sendiri

    • Anonymous Says:

      Selain egois, pada dasarnya manusia juga adalah makhluk penuh kasih. Buktinya saat seseorang berada dalam bahaya, refleks manusia selalu bergerak untuk menyelamatkan orang tersebut meskipun mereka belum tentu saling kenal.

      Walaupun memang dalam kasus ini, perasaan yang akan dialami setiap orang berbeda-beda. Saya setuju bahwa kita tidak perlu memaksakan diri untuk menangis walau melihat sesuatu yang sedih jika kita tidak merasakan apapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: