Archive for Desember, 2008

Mati

4 Desember, 2008

Di jalur antara Thredbo dan Sydney, dekat dua belas malam, bis yang saya tumpangi berhenti. Dari balik jendela terlihat lampu polisi berkedap-kedip merah-biru. Saya, memaklumi hal ini sambil setengah terjaga, kembali terlelap.

Saya tersadar sepenuhnya lama setelahnya. Bis itu masih berhenti. Ambulans yang terparkir di sebelah dan mobil yang ringsek di parit depan membuat saya mengerti: ada kecelakaan. Supir bis sedang berbicara dengan seorang petugas di luar. Para penumpang terlihat menunggu dengan gelisah, sampai akhirnya sang supir kembali dan berkata, “It’s going to take some time, folks. I think a lady died in there.

Seorang perempuan di belakang saya langsung menangis. Dia akan terlambat menemui ibunya, jelasnya di tengah isakan.

Seorang pria menghampiri saya, bertanya macam-macam dan bergegas keluar. Mau memotret, katanya.

Sedangkan saya? Saya berusaha sebisanya untuk bersedih. Namun saya gagal.

Yang saya inginkan bukanlah monolog eksistensial atau pengamatan sosio-psikologi, meski mereka tetap menyergap. Tak perlu pilu yang menghantam tanpa ampun, meremas sampai tak bersisa dan mengeringkan mata.

Cukup sedih yang menitik, dilontarkan oleh empati. Tanpa tendesi maupun pretensi, tanpa khawatir akan kepantasan dan konformitas. Tak bisa kah? Gugah yang datang hanya karena rasa persamaan antar manusia, antar makhluk hidup? Haruskah semua hadir hanya lewat pemahaman? Saat itu, saya ingin menjadi orang yang sederhana.

Sang supir meminta maaf atas nama perusahaannya mengenai keterlambatan jadwal bis.

Dua anak berdiri di jalan, saling memeluk, penuh air mata. Mungkin ibu mereka yang ada di dalam sana.

Dan saya berusaha untuk bersedih. Namun saya gagal.

Yang ada hanya kecewa.