Cinta Dalam Sepotong Film

Alkisah, tatkala saya sedang mengarungi Jakarta, saya menyadari bahwa sang ibukota dipenuhi oleh reklame dan poster dua buah film: Merah itu Cinta dan Cintappucino. Saya pun berlagak seperti seorang penulis skenario senior dan berkomentar dengan yakinnya; “Weleh, film cinta lagi? Tidak ada tema lain, apa?

Selang 10 menit, saya menyadari bahwa selain bertema cinta, kedua film tersebut ternyata juga memiliki kata ‘Cinta’ di judulnya. “Weleh-weleh-weleh,” saya bergumam kembali layaknya sesosok boneka komodo, “tidak ada judul lain, apa?”

Valentine

Setelah saya telusuri dan cari-cari, saya temukan bahwa film Indonesia generasi baru yang memiliki kata ‘Cinta’ di judulnya ternyata banyak sekali. Coba saja lihat daftar film dalam lima tahun terakhir berikut ini (diurutkan berdasarkan abjad supaya tampak rapi nan classy):

  • 30 Hari Mencari Cinta
  • Ada Apa Dengan Cinta?
  • Apa Artinya Cinta?
  • Cinta Pertama
  • Cinta Silver
  • Cintappucino
  • Gue Kapok Jatuh Cinta
  • Inikah Rasanya Cinta?
  • Jatuh Cinta Lagi
  • Merah itu Cinta

Tersedia pula dalam bahasa asing:

  • Dealova
  • Eiffel, I’m in Love
  • I Love You, Om

Bahkan, ada juga fitur billingual is dwi-bahasa!

Terlepas dari kualitas film itu sendiri, tidak bisakah mereka mencari judul alternatif yang puitis? Film cinta berjudul ‘Cinta’, meskipun memenuhi syarat pemberian judul yang harus berkorelasi dengan isi dalam kaidah Bahasa Indonesia, itu agak berlebihan (apalagi kalau sampai nama tokohnya Cinta juga). Kalau mau menggambarkan tema saling mengasihi, masih banyak stok kata-kata lain yang bisa dipakai seperti ‘kasih’, ‘sayang’, ‘kekasih’, ‘rindu’, ‘dia’, ‘hasrat’, ‘romantisme’, ‘hati’ dan sebagainya. Memang mungkin tak kalah noraknya (untungnya saya bukan pembuat film cinta), tapi paling tidak ada variasi.

Saya tidak bermaksud mempermasalahkan menjamurnya film romantis di bioskop-bioskop. Terus terang meskipun saya agak alergi dengan cerita yang mendayu-dayu, toh saya tidak perlu menontonnya. Tapi kalau judul film, apalagi kalau dipajang besar-besar di jalanan, kan mau tidak mau terbaca? Ini penyiksaan paksaan, namanya!

Saya khawatir kalau dibiarkan fenomena ini bisa mempengaruhi genre-genre lainnya juga. Bagaimana jadinya kalau mereka sampai membuat film hantu berjudul Hantu? Oh, tunggu…

(Catatan rahasia: sengaja tidak saya masukkan Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll karena, di samping itu merupakan judul yang cukup keren, saya suka film tersebut. Subjektif? Bias? Memang!)

Iklan

38 Tanggapan to “Cinta Dalam Sepotong Film”

  1. Rizma Says:

    mau gimana lagi,,
    Kayanya judul dengan label ‘cinta’ masih menjual sih,, entah pilemnya bagus apa ngga,,

  2. Kopral Geddoe Says:

    Jangan lupa, tahi yang sama sudah lebih dulu (dan lebih mapan) mencoreng industri musik populer di tanah air. Terutama yang berasal dari Ahmad Dhani Band.

  3. sora9n Says:

    Nggak cuma judul aja, IMO… saya rasa hampir semua elemen pop di Indonesia (termasuk sinetron, lagu, dkk) diwarnai semangat merah jambu itu. 😆

    @ Kopral Geddoe

    Tapi, gitu-gitu, lagu2 mereka bisa ‘nampol’ banget lho kalau pendengarnya lagi patah hati. Kayak ‘Pupus’ tuh… 😛

  4. Scrooge McDuck Says:

    Untuk Rizma:
    Yah, saya yakin tanpa tulisan ‘cinta’ pun film cinta masih bisa mengeluarkan aura mendayu-dayu. Tengok saja Heart

    Untuk Kopral Geddoe:
    Meskipun begitu, mereka agak termaafkan karena bisa membuat lirik yang kualitasnya di atas band-band laskar cinta lainnya.

    Untuk Sora9n:
    Itu sih saya sudah pasrah. Kita memang sudah dijajah semangat merah jambu. Yang saya permasalahkan di sini, ya mbok kalaupun filmnya soal cinta judulnya cari yang lain, begitu. Paling tidak bisa terlihat agak lebih kreatif sedikit.

  5. Kopral Geddoe Says:

    Betul itu. Bebaskan pop culture dari propaganda merah jambu!

  6. Nott De Nutt Says:

    Yah…. Ngga bisa gitu dong… Kan itu yang dipengenin penonton…

    *ditimpuk*

  7. Rizma Says:

    @ Difo
    he eh,, ada kok lagunya Dewa yang jleb banget banget,, 😛
    *tergantung momen sih ya*

    Hmm,, kalo Heart itu Ma malah ga mikir apa apaan lagi aja asosiasinya udah sama ituh,,

    Hmm,, kalo Ma sih agak ga suka sama judul film yang sama dengan nama pemeran utamanya,, kecuali beberapa,,

  8. alex Says:

    Gejala latah yang tak terobati, agaknya. Sukses yang satu, yang lain akan mengekor seperti bebek. Nggak ada beda dengan sinetron. Lihat saja judul2nya, rata-rata garbas alias garing dan basi™!
    Coba deh: Hikmah, Hidayah, Hikayah… to name a few… itu sama saja benarnya.

    Ah, bicara tentang Merah Jambu di Dewa, aku sendiri udah sebal dengarnya. Semua CINTA. Dari album Bintang Lima sampai yang belakangan ini *lupa namanya*, bumbunya CINTA melulu. Eh… bikin trio binal baru bernama Dewi-dewi, sama saja: DOKTER CINTA, dude!!

    waddafak!

    *misuh2*

  9. Kopral Geddoe Says:

    Cinta dalam pop culture = Media selling out 😛

  10. Nott De Nutt Says:

    OOT dikit…

    Yang ngarang novel Heart itu katanya yang bikin novel ‘Kok Putusin Gue’ sama ‘Test Pack’ yagh?? Kalo emang iyah….

    Kok tingkat karyanya nurun gitu?? Apa ikut2 tuntutan konsumen ya?? Yang bertema CWINTA smuah…

    *mikir*

  11. Mihael "D.B." Ellinsworth Says:

    Well…sekedar pelampiasan. Kalau ingin melihat judul film – film di atas, dikafiri, atau malah diberi penghargaan, tilik Sinema Indonesia.

    Eit, katanya “Hantu” itu film horor yang sukses. Katanya lagi, bukan buatan duet India Shanker-Koya itu… 😕

  12. Scrooge McDuck Says:

    Untuk alex:
    Lha, Ahmad Dhani kan memang pedagang cinta, jadi komoditinya ya cinta semua. Dia membuat beberapa grup itu untuk menambah variasi demografi pasar dalam ketagori cinta. Prinsip bisnis standar, kok.

    Untuk Nott De Nutt:
    Itu karena novel Heart adalah adaptasi langsung dari film-nya. Ya apa boleh buat: sehebat-hebatnya pengarangnya, dia tidak akan bisa terlalu jauh menaikkan kualitas kalau dasar ceritanya sudah jelek.

    Untuk Mihael “D.B.” Ellinsworth:
    Bukan masalah filmnya bagus atau tidak. Judulnya itu lho. Judul kan salah satu penarik pengunjung juga. Ini namanya segi promosi dan timing-nya yang tidak bagus.

    Sinema Indonesia kok akhir-akhir ini penulisnya tinggal berdua?

  13. jejakpena Says:

    Katanya sih tema roman macam ini pangsa pasarnya tetap tinggi sampai kapanpun, dimana-mana. Hanya saja… umumnya per-film-an dan per-sinetron-an Indonesia gak mahir menyamarkannya. Selalunya blak-blakan, dan ituu… norak -__-`.

    Mungkin mereka sadar kenorakan ini tapi proyek mesin uang bikin mereka sedikit mati rasa? 🙄

    Entahlah. 😛

  14. spitod Says:

    sama, saya juga bosen ngeliat judul cinta terus-terusan.

  15. p4ndu_Y4m4to Says:

    Saya sejak dulu ga suka ama film Indonesia yang bergenre percintaan.

  16. Nott De Nutt Says:

    Oooo… geto. untung bukan filmnya yang ngadaptasi dari novel 😀

    Tapitapi…. ada ngga yah film Indo bertema cinta yang bagus?

  17. Nenda Fadhilah Says:

    Hush, hantu katanya bagus.
    Jangan2 poster2 segede gaban yang ada di samping PIM? *ngesot ke SC*

  18. Scrooge McDuck Says:

    Untuk jejakpena:
    Ah, Anda menyampaikannya lebih bagus daripada saya. Demikianlah adanya.

    Untuk Nott De Nutt:
    Hmm, Cinta Dalam Sepotong Roti. 😛

    Vina Bilang Cinta juga lumayan menghibur sebagai popcorn movie. Eh, film ini tak ada di daftar film di atas ya?

    Untuk Nenda Fadhilah:
    Sial, dia melihatku!

  19. Kopral Geddoe Says:

    Lha. Image-nya diganti…?

    Tidak apa. Lebih bagus begitu 😛

  20. Scrooge McDuck Says:

    Sebab yang lama kok rasanya lebih cocok untuk artikel yang di atasnya. 😛

  21. Mihael "D.B." Ellinsworth Says:

    Hmm…”Merah itu Cinta” itu termasuk yang tersebut diatas tidak ?

  22. Nott De Nutt Says:

    Apa cuma gw yang beranggapan kalo I Love You Om itu bagus??

    *nangis sepanjang film*

    Nyesel de liat si Amanda maen di Candy… >< *minus mata nambah*

  23. Mihael "D.B." Ellinsworth Says:

    Candy itu bukannya tiruan dalam Anime Candy – candy ? <– O.O.T.

  24. Scrooge McDuck Says:

    Graa! Jangan sebut-sebut Candy! Ada Tuan Anthony-nya! Dipanggilnya “Tuan Anthony” juga pula! Arrrgh! Paman Albert muncul tidak? *penasaran tapi tak mau menonton*

    Untuk Mihael “D.B.” Ellinsworth:
    Ada kok, Merah itu Cinta.

    Untuk Nott De Nutt:
    Sejujurnya belum saya tonton film tersebut. Judulnya mengerikan, sih…

  25. Nott De Nutt Says:

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Iyah, emang asli tiruan Candy-Candy -.-

    @Scrooge McDuck
    Masa mengerikan?? Perasaan menarik gitu >D *phedo*
    Wajib nonton ituh >< Termasuk film bagus lah, compared to the others 😀
    Filmya bikin gw nangis, berkalikali *emang agak hiperbola aja :P*
    *pernah niat buat ngaplod di yutub*

  26. cK Says:

    entah kenapa saya kurang berminat menonton film-film indo di bioskop. mending nunggu 6 bulan lagi, ntar juga ditayangin di tipi. 😛

  27. Xaliber von Reginhild Says:

    Saya tidak pernah suka film cinta, baik itu Indonesia maupun bukan. Terutama Indonesia sih.
    Sekalinya muncul film cinta Indonesia yang cukup sukses di pasaran, yang lain pasti akan muncul lagi. Herannya masih banyak saja yang menonton film-flm bergenre itu, terlepas bagus-tidaknya. Kenapa ya?

    Apa karena tema yang sangat disukai oleh rakyat Indonesia (terutama remaja) itu cinta-cintaan, berhubung hal yang serupa bisa ditemui di kehidupan sehari-harinya; ketawa-ketiwi melihat laki-laki tampan, berteriak “Ua, au”, berkeluh manja ketika sedang jatuh cinta, bersedih ketika patah hati?

    Kalau menurut saya sih lebih menarik film-film historis atau dokumenter yang bagus. Indonesia jarang membuat film jenis ini–dan kalaupun ada yang sukses, pasti sedikit/tak ada yang mengikuti. Tertelan wave of love. 😛

    Hehe, semoga ini bukan bentuk-bentuk generalisasi atau sentimen-sentimen pribadi. 😛

    —————————-

    Merah itu Cinta

    Merah itu bukan Cinta, tapi “Merah itu Darah”. :mrgreen:

    Btw salam kenal. 😀
    Terima kasih dulu sempat mampir ke blog saya. 🙂

  28. danasatriya Says:

    kenapa segala sesuatu yang berbau ‘tren’ ujung ujungnya pasti menjadi suatu bentuk komoditas yang ‘murahan’ dan ‘masal’, kemudian fenomena itu baru bakal pudar ketika para ‘pengguna’ menyadari kualitas produk sudah semakin tidak bisa diharapkan.. *dan sudah terlambat*

    G tau kenapa,masih sedikit pilem Indonesia yang punya taste. Saya sebagai penggemar pilem layar kaca lebar hanya bisa mengingat dan tergugah pada beberapa judul pilem lokal. Kata2 si mbak CK itu lah yang sekarang akirnya jadi pelarian saya kalau melihat pilem indonesia yang mengikuti ‘tren’.. :mrgreen:

  29. oddworld Says:

    Mmm saya kira tadi daftarnya dimulai dari tahun 90-an, dimana ternyata sang ‘pemberontak’ Garin Noegroho sendiri memberi judul film-nya “Cinta Dalam Sepotong Roti” (bung bebek pasti tahu film ini *lirik-lirik judul post ini*)
    Jadi…….. salahkan Garin sebagai trendsetter pemakaian kata Cinta dan segala derivatnya (over simplifikasi ya 🙂 )

  30. lain Says:

    kalau cinta itu benda hidup sudah kaya raya dia karena royalti..

  31. eko Says:

    gue salut ma komen lu pada.jarang ada yang melihat suatu detail yang kerap terlewatkan.bener y coba kalo fil luar semisal korea yang menanjak ahir ahir ini mereka lebih banyak menyamarkan judul filmnya sehingga frekuensi keingin tahuanpun akan meningkat pesat karena judul fil yang menjual.cinta cinta dan cinta membosankan tapi mengasyikkan

  32. janur Says:

    bravo film luar negri.bikin iri.oei kerasa ga sich kita lebih cenderung suka menyaksikan film yang menggunakan setting gambar kek dilayar lebar ga kayak grafis sinetron yang terang benderang g ada seni redup pada tampilan gambar. katanya tu karena lensanya beda yach? katanya mahal gitu.kalo dikorea filmnya dah kayak sistem layar lebar ya film serinya

  33. Black Says:

    maksudnya gambar layar lebar lebih redup gitu khan?jadi bopeng muka ato make up karakternya g terlalu menonjol.uhmmm bener juga brow

  34. antonnneiiiii Says:

    candy ku dihina alah bodo ah. bener semua isi blog ini yang lebih parah tyu.kita tyu jarang liat bintang muda ynag bener bener mutlak bisa berperan alias cuma modal tampang doank. coba difilm luar kadang tokohnya ga terlalu cakep tapi yang terpenting karakteristiknya kuat. ciri nya dia bisa meninggalkan ksan setelah film usai

  35. bondan Says:

    anu anu aku mau nambahin (HUUUUUUUUU) tenang tenang
    selain karakteristik, tampilan gambar, dll ada 2 hal lagi yang menurut gua salah difilm indo
    1. latar. kadang pemilihannya asal karena kejar jam tayang ini diperparah sudut pengambilan gambarnya g pas jadi terkesan semerawut

    2. kata kata dalam dialog cuma kek angin lalu karena ekspresi yang terlalu dibuat buat. kata katanya tidak selugas didalam dialog film semisal jepang. g ada kata yang menghanyutkan yah semisal kata yang melambangkan semangat saat sedang ada masalah

  36. g4ronk Says:

    kalau boleh dibilang itu mah karena iklim indonesia masih sesuai untuk jamur-jamur macam gitu, kalau saja kita punya petsisida yang kuat mungkin jamur-jamur kagak bagus macam gitu bisa dihentikan tumbuhnya

    atau malahan bisa bermutasi menjadi sesuatu yang lebih ganas dan berbahaya… cinta ke sesuatu yang lain 😆

  37. Xaliber von Reginhild Says:

    Dulu kayaknya saya sempat komen disini, tapi kayaknya ketelen Akismet… intinya sih saya kurang setuju dengan cinta-cinta yang berlebihan di film-film Indo.

    @eko s/d bondan:
    Hmm… komentar banyak dalam waktu berdekatan dengan avatar yang sama terpampang di sidebar.
    Multiple personality disorder? 😕

  38. PENGHIANATAN CINTA | penghianatan Says:

    […] kiranya paling dirasakan ketika dunia perfilman sudah mengaplikasikan kata cinta tersebut. Menilik kualitas, setidaknya sudah ada media […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: