Di jalur antara Thredbo dan Sydney, dekat dua belas malam, bis yang saya tumpangi berhenti. Dari balik jendela terlihat lampu polisi berkedap-kedip merah-biru. Saya, memaklumi hal ini sambil setengah terjaga, kembali terlelap.
Saya tersadar sepenuhnya lama setelahnya. Bis itu masih berhenti. Ambulans yang terparkir di sebelah dan mobil yang ringsek di parit depan membuat saya mengerti: ada kecelakaan. Supir bis sedang berbicara dengan seorang petugas di luar. Para penumpang terlihat menunggu dengan gelisah, sampai akhirnya sang supir kembali dan berkata, “It’s going to take some time, folks. I think a lady died in there.“
Seorang perempuan di belakang saya langsung menangis. Dia akan terlambat menemui ibunya, jelasnya di tengah isakan.
Seorang pria menghampiri saya, bertanya macam-macam dan bergegas keluar. Mau memotret, katanya.
Sedangkan saya? Saya berusaha sebisanya untuk bersedih. Namun saya gagal.
Yang saya inginkan bukanlah monolog eksistensial atau pengamatan sosio-psikologi, meski mereka tetap menyergap. Tak perlu pilu yang menghantam tanpa ampun, meremas sampai tak bersisa dan mengeringkan mata.
Cukup sedih yang menitik, dilontarkan oleh empati. Tanpa tendesi maupun pretensi, tanpa khawatir akan kepantasan dan konformitas. Tak bisa kah? Gugah yang datang hanya karena rasa persamaan antar manusia, antar makhluk hidup? Haruskah semua hadir hanya lewat pemahaman? Saat itu, saya ingin menjadi orang yang sederhana.
Sang supir meminta maaf atas nama perusahaannya mengenai keterlambatan jadwal bis.
Dua anak berdiri di jalan, saling memeluk, penuh air mata. Mungkin ibu mereka yang ada di dalam sana.
Dan saya berusaha untuk bersedih. Namun saya gagal.
Yang ada hanya kecewa.
5 Desember, 2008 pukul 12:27 pm
Umumnya, Anda hanya perlu membayangkan diri sebagai salah satu dari kedua anak itu (atau bayangkan yang meninggal itu ibu/tante/kakak Anda). Nanti kesedihan itu akan mengalir sendiri.
Jika masih tidak mempan… well, mungkin Anda punya kecenderungan non-attachment yang terlalu tinggi? ^^a
5 Desember, 2008 pukul 3:56 pm
Ah, tapi di situ lah batasnya saya tarik. Bukankah dengan begitu, kita telah melenceng keluar dari jalur empati dan memasuki jalur khayalan? Justru menjadikan kedua anak itu elemen yang tak penting? “Saya sedih bukan karena ada dua anak kehilangan ibunya, namun karena saya membayangkan skenario yang mirip dengan apa yang dialami kedua anak itu bagi diri saya sendiri?”
Dan akhirnya berbalik ke ego, bukan ketulusan.
5 Desember, 2008 pukul 5:04 pm
^
Tapi, bukannya empati itu sendiri intinya:
~ katanya wikipe.
IMHO, kuncinya ada di bagaimana kita concern pada well being orang lain. Saya rasa, sejauh Anda punya concern pada mereka yang menderita, harusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tidak juga, IMO. Sebab,
1) Saya tahu peristiwa X menyedihkan
2) Anak-anak itu mengalami peristiwa X
3) Karena saya tahu peristiwa X itu menyedihkan, maka saya bisa merasakan penderitaan kedua anak tsb.
Alhasil:
4) Saya jadi bersimpati pada mereka. Tulus lho.
Jadi “membayangkan diri sendiri” itu sekadar proyeksi saja. Sedangkan poin utamanya di (3) dan (4) — yakni “saya bersimpati karena mereka harus menanggung beban tersebut”.
7 Desember, 2008 pukul 2:00 pm
Lha? Komentar saya dari kemaren masih nyangkut di moderasi? (o_0)”\
7 Desember, 2008 pukul 10:37 pm
Oh, ada? Maaf, maaf. (masih tidak mengerti mengapa ada yang masuk moderasi ada yang tidak)
Mungkin yang saya cari adalah sesuatu yang otomatis. Yang tak perlu dirasionalisasi sebelum terjadi. Tentunya saya mengerti sedihnya kehilangan. Namun karena itu, pada akhirnya yang terjadi justru “untung bukan saya.”
17 Desember, 2008 pukul 8:27 am
mengerikan…
17 Desember, 2008 pukul 10:50 am
pak soran9
empati dan simpati menurut literatur stensil yang saya pernah baca katanya berbeda pak. kalo simpati kita pakai jarak dengan objek yang dilanda kesusahan ‘…kasihan ya kamu’, tapi kalo empati kita ikut mnyelami perasaan sang objek ‘aduh saya bisa ikut merasakan’
dan empati terutama, membutuhkan daya khayal yang tinggi pak mcduck. saya sepakat itu (kata orang, karena saya kebanyakan pake kepala, dan ga pake hati… so what?)
26 Februari, 2009 pukul 11:14 pm
Ya gak usah terlalu worry lah. Dalam segi moral, menurut aku bukannya perasaan menyesal karena gagal merasakan itu sudah merupakan seni empati tersendiri?? bahkan begitu rajin untuk pengalaman konflik batin ini dibawa ke blog, bukannya “the answer is just right here”?
8 Maret, 2009 pukul 3:31 pm
saya kok malah kasihan sama yg nulis positngan ini yah