Akhir-akhir ini, saya sedang ketagihan menelusuri situs ini. Semenjak Kopral Geddoe memberikan jalan ke tempat itu beberapa hari lalu, bisa dibilang saya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor untuk membaca artikel-artikel yang tersebar di sana daripada mengerjakan hal lain yang sepatutnya saya lakukan sebagai seorang pegawai ekspor.
Ah, tapi saya tidak akan bercerita mengenai deadline pekerjaan saya yang semakin dekat, atau bos saya yang kemungkinan besar sudah bertanya-tanya apa gunanya investasi gaji yang dia berikan pada saya tiap bulan.
Saya akan mengalihkan perhatian dan mengarahkan Anda sekalian ke artikel ini.

Ada satu komentar di bagian mengenai Tyrannosaurus rex yang cukup menggelitik:
In print media, the name of this dinosaur is often incorrectly rendered as “T-rex” rather than “T. rex.” This is most likely due to the writer being ignorant of Linnaean classifications and the conventions associated therewith.
Nah, biasanya saya mendukung gerakan yang bertujuan untuk “membakukan bahasa”, namun yang satu ini kok rasanya terlalu berlebihan dan elitis? Tak peduli apakah para penulis tersebut familiar dengan aturan taksonomi atau tidak, saya yakin mereka tidak bermaksud untuk menyebut sang Tyrannosaurus rex dengan penamaan spesiesnya yang baik lagi benar.
Istilah “T-rex” telah menjadi istilah yang dipakai secara luas. Seorang awam yang pernah menonton Jurassic Park pasti akan menyebutnya seperti itu. Dengan demikian istilah tersebut bukanlah monopoli para ilmuwan dan jelas tidak dimaksudkan sebagai kata ilmiah. Dengan alasan yang sama kita memprotes orang yang berseru “anjing!” bukan karena dia tidak tahu klasifikasi Linnaeus dan tak berteriak “C. lupus!”
Kalimat ultra-informatif dengan kata-kata kaku sesuai kaidah, saya rasa, lebih pantas ditaruh di dalam jurnal ilmu pengetahuan dan buku hukum. Jelas bukan dalam sebuah artikel kasual atau percakapan sehari-hari.
2 Juni, 2008 pukul 8:17 pm
Saya rasa terminologi T-rex itu tidak dimaksudkan untuk mengikuti kaidah klasifikasi Linnaeus, melainkan hanya slang untuk mempersingkat nama “Tyrranosaurus rex”; sebab spesies ini tidak mempunyai nama lain untuk disingkat seperti halnya B. taurus (sapi, kerbau, lembu) atau C. lupus (serigala, timberwolf, anjing hutan).
Hanya saja, kebetulan istilah pop “T-rex” itu sangat mirip dengan nama pendek yang diberikan para ilmuwan, “T. rex”.
Mungkin anda perlu protes ke situs yang bersangkutan?
2 Juni, 2008 pukul 8:29 pm
Inginnya sih protes, namun saya khawatir sang pengetik tak akan mengunjungi artikel tersebut lagi.
2 Juni, 2008 pukul 8:52 pm
BTW, sekadar menjaga kredit, link itu saya dapat dari Bung Sora.
3 Juni, 2008 pukul 3:27 pm
Kalau menurut saya sih, sebenarnya T-rex itu memang nama slang. Kurang lebih mirip dengan yang disampaikan oleh K. geddoe.
BTW, bukankah nama tersebut terdengar keren dan funky? Terutama dengan adanya huruf2 T, R, X, dan tanda setrip.
IMHO, ini jelas upaya memperkenalkan nama T-Rex sebagai kosakata slang.
28 Juli, 2008 pukul 1:27 am
Kurang setuju.
kalo dalam jurnal ilmiah, IMO, sekalian aja ditulis lengakp… nggak usah disingkat-singkat…
31 Juli, 2008 pukul 9:16 pm
Berarti tidak cocok dimasukkan ke mana-mana? Wah, sedih juga nasibmu, wahai T. rex.
4 Agustus, 2008 pukul 5:26 am
good for me. saya nggak terlalu suka T. rex, brontosaurus dan stegosaurus kan lebih keren…
7 Agustus, 2008 pukul 10:24 pm
Anda salah! Seharusnya A. ajax dan S. armatus!