Anda sedang kesal? Ingin browsing tapi ternyata server sedang bermasalah? Atau Anda berdebat lewat internet dengan individu ngeyel yang membuat Anda menginginkan kekuatan super untuk bisa meninju seseorang lewat sambungan TCP/IP? Anda berusaha menahan cacian karena tak ingin terlihat barbar namun lama-kelamaan makin kesulitan?
Jangan khawatir! Giko-lah solusinya!
Ya, giko! Kata ini berasal dari bahasa Jepang yang secara harfiah berarti “mengimitasi gaya klasik”. Kemudian, kata “giko” dipopulerkan lebih jauh melalui Kucing Giko, atau Giko-neko, karakter Shift-JIS dan maskot yang sangat terkenal dari forum 2ch. Nah, Kucing Giko inilah yang menjadi asal-usul teknik yang saya promosikan sekarang: gikoisasi.
Gikoisasi adalah sebuah teknik yang memanfaatkan kemampuan imajinasi manusia untuk menyesuaikan persepsi kita dan membelokkan sedikit fakta dalam pikiran kita. Tujuannya adalah membuat keadaan yang buruk bagi kita menjadi terasa lebih baik.
Yang dimaksud di sini bukanlah kita harus membayangkan makian seseorang menjadi kicauan burung atau kita justru berpura-pura menyukai makian tersebut. Itu sih terlalu berat: terlalu banyak kenyataan yang harus dibengkokkan. Yang harus kita beri peng-giko-an sebenarnya adalah obyek yang menjadi sumber dari kemarahan kita. Kita harus memberikan karakterisasi pada obyek tersebut agar bisa lebih kita toleransi kesalahannya.
Bingung? Jangan cemas, saya pun bingung. karena itu, mari kita buat lebih sederhana dengan beberapa contoh.
Kasus 1
Anda dicaci-maki tanpa alasan oleh seseorang di sebuah forum internet. Tentu Anda marah kan? Ingin sekali Anda membalas dan sudah Anda ketik kata-kata yang tak kalah dashyatnya. Tunggu! Sebelum Anda tekan tombol eksekusi itu, lakukanlah gikoisasi. Bentuk lawan bicara Anda menjadi sebuah karakter. Misalnya, Anda bayangkan bahwa sebenarnya dia adalah gadis tsundere yang berlaku kasar karena ia salah tingkah di hadapan Anda. Wah, menyenangkan, bukan? Fokuskan khayalan tersebut dan kemarahan Anda pun berangsur mereda.
Kasus 2
Anda sedang mengetik untuk blog Anda dan tiba-tiba sekering listrik Anda turun, komputer pun padam. Tentunya campur aduk perasaaan Anda. Tunggu! Sebelum Anda menyemburkan kata-kata yang bisa membuat para tetangga menggeleng-gelengkan kepala, pakailah teknik giko! Coba anggap sekering listrik Anda sebagai seorang pelayan imut yang berusaha menahan beban listrik – direpresentasikan oleh piring-piring – untuk mengakomodasi kebutuhan Anda. Ketika beban yang dia tanggung terlalu banyak, ia pun kehilangan keseimbangan dan piring-piring itu terjatuh. Lengkapi dengan gambaran bahwa dia kemudian memasang wajah sangat menyesal dengan mata berkaca-kaca. Menghadapi itu, Anda tidak sampai hati marah-marah kan?
Pada intinya, Anda harus memberikan sebuah karakterisasi khayalan, sebuah personifikasi yang bisa membuat kemarahan Anda terbendung. Bukan karena kesalahan yang dilakukan lebih ringan, namun karena tipe karakter yang melakukannya lebih bisa Anda maafkan. Tentu saja, solusi yang saya tawarkan pada contoh-contoh di atas murni mengambil referensi dari selera pribadi saya. Anda bisa dengan bebas membuat imajinasi yang berbeda sesuai dengan situasi dan selera masing-masing.
Jadi, jika setelah ini Anda bertemu dengan situasi yang menguji kesabaran Anda, tenang saja. Anda sudah dipersenjatai oleh salah satu senjata terhebat umat manusia: daya imajinasi! Kalahkanlah nafsu liar Anda dan sebarkanlah gikoisasi ke seluruh dunia!
(Peringatan: teknik kurang efektif melawan individu yang sudah Anda kenal baik. Terlalu banyak fakta yang harus dibengkokkan di sana.)
30 April, 2007 pukul 8:44 pm
Jadi bapak serius, waktu bapak bilang mau menyebarkan gikoisasi ke seluruh dunia…
Memang teknik yang menarik, sih. Ah, tapi apa akan bekerja pada seorang peragu seperti saya?
(Atau keragu-raguan saya juga bisa digiko?
)
30 April, 2007 pukul 9:11 pm
Artikelnya JELEK!!! kenapa juga harus nahan amarah???!!! kan lebih enak melampiaskan amarah???!! ditahan bisa bikin sakit, tahu!! dasar GILA ini yang bikin artikel ini!!! CUIH!!!!!
*anggap saja saya orang kurang waras*
30 April, 2007 pukul 9:13 pm
BAH!!! ATAS TEORI APA LOE MENJELASKAN INI??!! DASAR GOBLOKK!!!
EMANG LOE AHLI PSIKOLOGI???? CUIH!!!!!
* kali ini, anggap saya atasan anda
*
30 April, 2007 pukul 9:17 pm
eh, ini bukan sindiran satir lho. meskipun kata-katanya sedikit kasar, tapi percayalah, ini bukan sindiran satir.
btw, ini bagus kok sarannya, saya sebarin.
tapi kalau disalahgunakan bisa gawat juga
30 April, 2007 pukul 9:18 pm
Lha, kalau penderita Stockholm Syndrome gimana?
30 April, 2007 pukul 9:21 pm
Kalau saja saya adalah anda, rasanya saya pengen nyobek-nyobek mulutnya. Bikin artikel ga diperhatiin, yang diperhatiin cuma sarannya. Ditambah lagi membuat contoh nyata untuk itu!!!
Sangat Tidak Beradab, bukan???
1 Mei, 2007 pukul 5:19 am
Sedikit lebih sulit, tapi secara teknis seharusnya bisa. Such is the power of imagination
Walah, kalau di-giko sebagai atasan, rasanya keadaan justru akan menjadi tambah buruk…
Lha, apa hubungannya dengan giko?
Lho, tapi inti artikelnya kan saran…?
1 Mei, 2007 pukul 9:49 am
Ide bagus, di Giko!, tapi buwat saya, keluarkan kata-kata umpatan itu biar sedikit lega, he..he..he…
Membelokkan Fakta? wah pantangan tuh!
1 Mei, 2007 pukul 9:54 am
Membelokkan faktanya kan hanya sementara di dalam pikiran, Pak. Ya jangan dikoar-koarkan ke orang lain.
Kalau soal menahan umpatan, tekniknya memang lebih efektif di jagat maya. Kalau real-time saya akui jauh lebih sulit diimplementasikan.
1 Mei, 2007 pukul 10:40 am
Assalamualaikum wr wb
Kuncinya sih sifat sabar, Kalo wak dalam kondisi demikian biasanya langsung baca Surat YAASIIN, ato ambil wudhu dan sholat 2 Rakaat.
Karena ALLAH bersama orang yg sabar, dan Doa yg mudah dikabul adalah doa orang yg di dzolimi.
Makanya dalam keadaan “terdzolimi” demikian, dari pada berGIKO lebih baik berDOA. Insya ALLAH doa nya terkabul.
1 Mei, 2007 pukul 11:39 am
Waalaikumsalam wr. wb.
Pada akhirnya memang kuncinya ada pada sifat sabar. Giko ini kan aplikasi praktis dan cepat untuk membantu kesabaran itu saja. Terus terang, saya tidak bisa berdoa dalam keadaan yang tidak tenang dan saya yakin doa saya tak akan sampai kalai hati saya masih dongkol. Maka dari itu saya pakai teknik giko ini agar tenang terlebih dahulu, baru setelah itu berdoa.
1 Mei, 2007 pukul 1:19 pm
Assalamualaikum wr wb
Doa orang dongkol (selama dia dapat menahan kedongkolannya) langsung di kabulkan.. he he he.
1 Mei, 2007 pukul 1:20 pm
Kalau Shan-in, susah lah… Emosi sudah memuncak, bayangan gadis-gadis cantik pun hilang di benak Shan-in…
1 Mei, 2007 pukul 1:25 pm
Wah, itu berarti daya imajinasinya kurang. Coba perkaya imajinasimu dengan meneliti foto-foto gadis cantik, sekalian agar terbiasa.
Walah, itu mah namanya tidak dongkol, atuh Wak.
1 Mei, 2007 pukul 7:17 pm
Wohohoooo…
Berarti terlalu banyak melihat Miyabi tak berpengaruh ya?
*dilempar kulkas*
1 Mei, 2007 pukul 7:23 pm
kalau narkolepsi, di-giko-kan bagaimana?
1 Mei, 2007 pukul 8:37 pm
Pernah saya alami
Ggggrrrrhhhh….. *sambil menahan amarah yang telah menembus batas*
@ Scrooge
Apa tidak ada media lain selain para gadis?
*dihajar Lymsleia pake Sun Rune*
1 Mei, 2007 pukul 8:37 pm
Untuk Shan-in Lee:
Tergantung fokusnya juga, sih…
Untuk kunderemp:
Narkolepsi? Wah, saya kurang berpengalaman di bidang ini. Coba saya riset dulu ya?
…
…
…
Argh! Saya menyerah! Tiap kali saya coba rasa-rasakan, saya tertidur.
1 Mei, 2007 pukul 9:05 pm
Yah, itu kan tergantung kebutuhan pemakai. Kalau Anda ingin memakai media pria tampan juga boleh kok.
2 Mei, 2007 pukul 12:34 am
Ah, peruntungan saya sedang jelek sekali hari ini.
Apakah ‘peruntungan’ bisa dipersonifikasikan lalu digiko juga? Hmm…
2 Mei, 2007 pukul 10:46 am
Huahaha..menarik nih..
Gikoisasi ya, sangat cocok diterapkan buat saya yang labil tapi imajinatif.
Coba aaah…
2 Mei, 2007 pukul 1:58 pm
Wah, tehnik yang aneh.
Pak Bebek, gikoisasi bisa jadi tidak efektif kalau orang tersebut jarang menggunakan imajinasi mereka.
Kalau untuk anak – anak Seni sih, bukan main mudahnya. Bayangkan setiap harinya mereka diharuskan menggunakan imajinasi mereka untuk menciptakan suatu karya.
2 Mei, 2007 pukul 6:54 pm
Aih, Shan-in bukan anak seni, bukan seniman.
Jadi susah ya… >___
2 Mei, 2007 pukul 8:15 pm
Seni tidak penting! Yang penting adalah hati! (apa maksudnya?)
Mengapa ada kecenderungan meng-giko hal-hal yang abstrak?
Bagus! Sebarkanlah tehnik ini ke teman-teman Anda!
4 Mei, 2007 pukul 10:57 am
Ini ‘kan hanya perumpamaan.
4 Mei, 2007 pukul 11:18 am
wak-wak-wak…. biarpun udah sering melakukannya… baru tau saya namanya giko…
Tapi kadang gagal loo..hehe….kalau udah gak ketulungan…
4 Mei, 2007 pukul 11:46 am
[...] yang terlebih dahulu harus dibunuh dan dikubur dalam – dalam. Seperti cara yang diberikan oleh Pak Bebek. tapi bukan berarti bahwa kita tidak boleh marah. Menyimpan sifat marah kita untuk hal yang [...]
4 Mei, 2007 pukul 12:54 pm
Untuk Death Berry:
Saya juga hanya bicara sekenanya.
Untuk Bart:
Berarti sayalah yang berjasa menginformasikan nama untuk teknik tersebut!
Mungkin harus saya tambahkan peringatan tambahan bahwa teknik tidak 100% efektif, ya?
4 Mei, 2007 pukul 10:22 pm
lupa saya. Pakai (TM) dong!
biar terkenal…
5 Mei, 2007 pukul 7:04 am
Maksudnya “giko™”, begitu? Untuk apa? Kata “giko” sendiri sudah lumayan aneh dan jarang digunakan.
5 Mei, 2007 pukul 10:39 am
Karena aneh dan jarang digunakan, lebih baik dipatenkan sekarang. Nanti malah diambil oleh ‘Raja Trademark’ lagi….
*Dibakar Massa*
28 Mei, 2007 pukul 4:57 pm
[...] kalau IP mereka bisa dilihat.), bisakah anda tahan…? Bisa juga anda berpikir dengan cara giko. Tapi kalau itu kelewat sulit, anda kaji ulang komentar dia, siapa tahu diantara kata – kata yang [...]
13 Juni, 2007 pukul 1:29 pm
Saya kira program..
wahahahahahahaha!
7 September, 2007 pukul 12:50 am
euh.. ada contoh lain utk di-giko-kan?
*masih bingung.. why yu become mad or angry wit sumthin like dat?*
19 September, 2007 pukul 9:27 am
giko yang menarik, kalo yang berikut ini enaknya di giko gimana ya?
- calo yang ngabisin tiket, atau calo yang mempersulit pembayaran pajak
- ustat sinting yang jerit-jeritan / nyanyi-nyanyi pake speker tanpa liat2 waktu
- perokok yang ngebul-ngebul di bis/kereta panas?
ada saran?
11 November, 2007 pukul 6:49 am
Itu sih tidak perlu pakai Giko. Persembahkan Ketupat Bangkahulu saja…
23 Januari, 2008 pukul 12:51 pm
Coba bayangin penumpang dudul yang kemarin sikut-sikutan di busway jadi semut-semut lucu kaya di AntZ.
*hmmmmmm, walah! kok ga nyambung jadinya? ^_^