Judul yang aneh. Ya, judul memang biasa saya pikirkan terakhir jadi kadang saya menyusunnya sekenanya. Dan ya, ini berarti paragraf yang satu ini juga sebenarnya saya tulis terakhir. Jadi, euh, mungkin saya harus mulai masuk ke tujuan utama tulisan ini, ya? Baiklah, untuk mengilustrasikan inti yang sebenarnya sangat sederhana ini, saya akan mengawalinya dengan sebuah cerita.
Saya seringkali dibuat bingung oleh satu hal. Bagi sebagian besar orang, pastinya hal ini adalah hal yang sangat sederhana; saya sendiri malu mengakuinya. Saya bingung kalau ada orang yang memuji saya.
Hei! Tunggu, jangan pergi dulu! Saya serius. Masalah ini cukup gawat bagi saya. Ini adalah dilema yang lebih besar daripada yang dialami “The Thinker” ketika ia kehilangan bajunya. Apa? Itu perbandingan yang tidak tepat? Biarlah, tidak usah Anda pikirkan hal tersebut dan konsentrasikan saja pikiran Anda pada kisah berikut.
Ah, betul, sebagai seseorang yang kurang bisa menghargai diri sendiri, saya selalu bingung tiap kali ada yang memuji saya. Tentu saja jika orang tersebut adalah teman dekat, saya cukup menepis dengan bercanda memakai pose tinggi hati. Namun sebaliknya jika orang tersebut tidak begitu saya kenal, saya menjadi kesulitan mencari tanggapan yang tepat. Akhirnya saya biasa menanggapi dengan kalimat “ah, saya hanya beruntung” yang tidak begitu meyakinkan.
Saya sadar bahwa saya terlalu banyak berpikir namun tetap saja tidak bisa membiarkannya. Saya yakin ada suatu cara yang sudah teruji, sebuah teknik yang bisa saya pakai berulang-ulang untuk mengatasi masalah ini. Kemudian saya baca di sebuah buku – yang sayangnya saya lupa judul dan letaknya sekarang – satu bagian yang menyinggung hal tersebut. Kira-kira begini isinya: “jika dipuji, hal yang paling baik dilakukan adalah mengucapkan terima kasih. Mencoba bersikap rendah hati tidak begitu bagus, sebab itu berarti Anda menyiratkan bahwa pernyataan lawan bicara Anda salah dan percakapan akan terhenti.”
Oke, ternyata sederhana sekali ya? Sejak saat itu dengan lancar saya praktikkan isi buku itu. Benar-benar membantu! Saya tidak gugup lagi tiap kali dipuji orang asing (maksudnya tentu bukan orang dari luar negeri). Dengan luwes saya pun berdansa melewati segala badai pujian yang menerpa menggunakan kata sakti tersebut. Masalah selesai.
Ternyata tidak.
Suatu hari, seorang kenalan saya berkata seperti ini:
“Wah, berarti loe pinter banget dong?”
Astaga! Pujian yang satu ini tingkat kesulitannya lebih tinggi! Ia dengan cerdik menyamarkannya ke dalam kalimat tanya selektif ya-tidak! Gawat! Bagaimana saya harus bereaksi? Menjawab “terima kasih” tentu tidak relevan. Menjawab “ya” terkesan sombong dan menjawab “tidak” terkesan bohong, tak peduli benar atau tidak. Saya terjebak!
Saat itu timbul pikiran untuk bersikap pasif saja dan sama sekali tak menjawab. Tapi dalam bersikap pasif pun ada sikap yang harus diambil, bukan? Apakah saya harus tersenyum tanda setuju atau cemberut tanda tidak setuju? Lha, ternyata itu sama saja dengan menjawab “ya” atau “tidak”.
Pada akhirnya saya mengadaptasi sebuah kuda-kuda darurat: saya melihat ke arah lain seraya tersenyum malu-malu, mengibaskan tangan ke depan seolah menolak sesuatu dan bersuara “aaaah!” dengan nada centil. Ketika sekarang saya bayangkan kembali kejadian tersebut, saya menyadari betapa menjijikan pastinya pemandangan tersebut. Entah apa pendapat teman saya ketika itu. Arrrgh!
Singkat kata, masalah kalimat tanya samaran ini begitu membingungkan sampai-sampai saya berkonsultasi pada ibu saya. Seusai saya menceritakan dilema saya, beliau tertawa dan berkata; “Gampang kan? Ubah saja subyek pembicaraan.”
“Bagaimana caranya?” tanya saya.
“Kalau kamu berusaha, kamu pun bisa seperti saya.”
Tentu saja sampai sekarang saya tidak pernah mengikuti saran tersebut. Bukannya bermaksud durhaka, namun saya yakin beliau hanya bercanda.
Sampailah saya pada kesimpulan: hubungan antar manusia tidak ada rumusnya. Bisa saja ada jutaan buku-buku yang memuat tips dan trik mengenai cara bergaul namun pada akhirnya manusia sendiri adalah makhluk yang dinamis dan tak bisa ditebak. Sulit sekali bagi saya yang selalu ingin berpikir secara sistematis untuk menerima hal ini. Apa boleh buat; hidup memang kejam.
Jadi solusinya?
Improvisasi. Nah lho, mencari alasan yang bisa diterima mengenai sebab saya terlambat sampai ke sekolah pada guru saja saya tergagap, apalagi ini.
28 April, 2007 pukul 2:36 pm
Masalah ini sudah pernah kita obrolkan dulu sekali, ‘kan?
Hohoho, akhirnya ada yang mengangkat dilema yang sering membuat manusia mati kutu ini
…
Berarti buku-buku jenis begitu memang cuma isapan jempol, ya
28 April, 2007 pukul 3:20 pm
Tidak “dulu sekali”. Belum sampai satu bulan kok.
Ah, buku-buku seperti itu bagus buat referensi, tapi jangan ditelan mentah-mentah!
28 April, 2007 pukul 6:12 pm
Sepertinya sulit sekali menjadi manusia…..
Tapi manusia juga yang sudah membingungkan dirinya sendiri.
28 April, 2007 pukul 6:32 pm
Betul itu. Terlalu banyak berpikir itu merepotkan.
28 April, 2007 pukul 8:31 pm
sepertinya orang lebih kuat dipuji daripada dihujat, coba deh!
28 April, 2007 pukul 11:04 pm
Hohoho, mate, dunia ini melelahkan, ya. Memusingkan, misterius, melelahkan, dan membawa permainan mematikan?
29 April, 2007 pukul 7:12 am
Kalau soal kuat-kuatan, itu sih sudah jelas, Pak. Beda lagi kalau soal bingung-bingungan; jika dihujat kan jalurnya sudah jelas…
Damn right, mate. Damn right. Sekarang kita tinggal menjalaninya dengan takut-takut.
29 April, 2007 pukul 11:14 am
I should begin adjust to high temperatures. Who knows whether I’ll end up in hell. Just in case~ Eternity is a long ride
Btw, update, update!
29 April, 2007 pukul 6:34 pm
Kalau dipuji dalam kalimat samaran seperi itu, sebaiknya kamu balik memujinya juga karena dia pintar menyamarkan pujian
30 April, 2007 pukul 5:39 pm
Rumusnya Improvisasi ada nggak ?
30 April, 2007 pukul 8:40 pm
Untuk Mr. Geddoe:
Oalah. Sudah tuh.
Untuk p4ndu_454kura:
Bagaimana?
“Ah, kamu bisa saja…”
Begitu?
Untuk bank al:
Rumus improvisasi? Jawabannya ada pada… musik Jazz!
30 April, 2007 pukul 9:03 pm
saya tahu.
Anda bisa pura-pura terkejut, mulut menganga, mata melotot, terus anda tampar dia sambil bilang :
“ah, benooaaarr???!!!! ah masa ah!”
pokoknya terus tampar sampai dia kapok.
kata-kata anda sewaktu menampar…. ya improvisasi
1 Mei, 2007 pukul 5:26 am
… o persona o mores…
Saran yang menarik. Mungkin akan saya coba. Tentu saja ke orang yang badannya lebih kecil dari saya. Salah-salah nanti improvisasinya bisa-bisa ke arah celurit…
1 Mei, 2007 pukul 10:52 am
Assalamualaikum wr wb
Kalo wak sich tetep balik-balik nya ke Agama juga, kalo kita dipuji, kata ustadz deket rumah, kita mesti Istighfar…astaghfirullaahaladziem (dikhawatirkan sifat sombong diam-diam tumbuh dalam hati kita)
1 Mei, 2007 pukul 11:31 am
Waalaikumsalam wr. wb.
Betul, tapi Istighfar kan cukup dalam hati saja, Wak. Tidak usah disebar-luaskan.
Yang membingungkan itu bagaimana memberi tanggapan baliknya pada orang yang bersangkutan.
1 Mei, 2007 pukul 1:25 pm
Orang macam Shan-in yang berpikiran pendek, pasti menjawab dengan:
^^;
atau
swt
Ohohohooo…
1 Mei, 2007 pukul 1:34 pm
Yah, andai saya bisa dengan bebas mengeluarkan “butir keringat” di dunia nyata.
22 Mei, 2007 pukul 10:28 am
Gw termasuk orang yang gak suka di puji loh..karena ya itu tadi..bikin mati kutu
tergantung pujian juga sie kayak gimana..
“Wah, berarti loe pinter banget dong?”
respon gw palingan “ah gak juga..” ..standar..heheh
buat yang lain yang gak biasa palingan jawab ..”thanx” dengan muka gw agak bengong ^ ^
29 Mei, 2007 pukul 9:48 am
Kalo responku:
Bukan aku yang pinter, tapi kamu yang bodoh..
Hahahahaha……..
3 Juni, 2007 pukul 7:48 pm
Waduh,,
kalo Ma beda lagi,, -berhubung Ma jarang dipuji- Ma muji orang, eh Malah dianggep nge-sinisin dia,, -padahal Ma ga terlalu sering muji orang-
*ada yang berasa ga ya
*
6 Juni, 2007 pukul 12:37 am
[...] Emm… sebenarnya ini dalam rangka menelaah bagaimana sebenarnya rumus kimia hubungan kasih ayah-anak sih… Atau memang benarlah itu, bahwa tidak semua hal ada rumusnya? [...]
6 Juni, 2007 pukul 12:39 am
terkadang ada benarnya sih, tidak semua hal ada rumusnya…
(halaah…)
kalau “peta”nya ada tidak?
Paling gak kita tidak sampai tersesat…
Setuju… setuju…
btw, baru pertama kali nih kemari, saya ada buat tulisan nih, jadi ada ping back-nya kemari, ijin ya? ^_^
Salam kenal…
11 Juni, 2007 pukul 8:30 am
Wah. betul juga “peta” ya? Kalau kompas mungkin ada. paling tidak kita punya bayangan arahnya ke mana.
Wah, silahkan, silahkan! Saya punya blog kecil begini, masa sih tidak saya izinkan kalau ada yang ping back?
Salam kenal juga.
22 Mei, 2009 pukul 6:54 pm
Wah, enak mas duck cuma salah tingkah.
Saya bisa lebih parah, keringat dingin!
apalagi yang muji cakepAkhir-akhirannya tak kasari…