… saya hanya heran: apa fungsi dari frase tersebut. Mengapa kita menggunakannya?
Mungkin ini harus saya latari dulu dengan sebuah cerita. Suatu hari saya dan teman-teman sedang membahas pengalaman dalam hal… ehm… mencontek ketika ujian. Kami dengan berapi-api menceritakan teknik-teknik mencontek yang paling fenomenal atau guru pengawas yang abai dalam melakukan tugasnya. Kami pun berpaling ke arah seorang teman yang sedari awal hanya diam untuk menanyakan pengalamannya. Dengan air muka yang segan, ia menjawab:
“Sori, bukannya gue munafik, tapi gue nggak pernah nyontek. Rasanya nggak enak aja.”
Hei, hei. Ada sesuatu yang salah di sini kan? Di samping kalimatnya yang dengan sukses mematikan percakapan panas itu, juga ketidak-akuratannya dalam mendaya-gunakan kata “munafik”, rasanya ada yang salah. Mengapa dia minta maaf? Mengapa pula dia merasa perlu membubuhkan disclaimer di awal kalimat? Bukankah secara teknis kami yang bersalah karena telah mempraktikan kegiatan mencontek dan membahasnya terang-terangan? Secara logis kami tidak memunyai hak untuk mendiskreditkan teman kami tersebut.
Tidak hanya saat itu, di tempat-tempat lain pun sering saya lihat orang-orang yang dengan ragu menyatakan pendapat positif mereka di depan mayoritas yang bertentangan. Tidak jarang mereka langsung dicap sebagai “sok suci” atau “cari sensasi”. Terlepas dari apakah mereka memang tulus atau tidak, mengapa label buruk itu dengan begitu mudah diberikan? Saya rasa tidak ada yang salah dari keinginan untuk berbuat benar.
Jika kita memperhatikan berita televisi atau membaca koran pagi, mungkin kita akan menemukan berita mengenai penyelewengan dana atau kekerasan. Itu sudah biasa, makanan sehari-hari. Namun ketika sesekali kita menemukan berita mengenai pejabat yang jujur atau orang yang menderma, kemungkinan kita akan berdecak kagum seraya bergumam; “ini baru berita.” Mungkin kita justru akan bersikap skeptis dan curiga bahwa berita tersebut dilebih-lebihkan atau ada maksud tersembunyi di balik tindakan-tindakan mulia itu. Di sini ada penolakan terhadap hal yang tidak biasa.
Saya tidak akan berlama-lama membahas teori mengenai liberalisasi moral atau konformitas yang pastinya sudah berkali-kali Anda dengar. Saya mengerti: manusia memang secara insting mencari jalan yang mudah. Kita juga merasa tidak nyaman jika ada orang yang menentang insting tersebut seolah mengatakan bahwa kita ini salah. Hanya saja, bolehkah hal tersebut menjadi titik kewajaran kita? Apakah memang template dasar manusia adalah negatifitas, membuat kita mengasingkan apa yang ada di luar itu? Ini membuat saya heran.
Sekali lagi, bukannya saya munafik. Saya hanya heran. Dan sedikit sedih.
23 April, 2007 pukul 10:56 pm
…Jadi yang menyedihkan saat ini adalah… Keinginan berbuat baik selalu dibayang-banyangi ketakutan dicap munafik? Berarti ketidakmunafikan sudah sama dengan kekotoran? Walah, iya juga…
24 April, 2007 pukul 1:56 pm
Hohohoho….tradisi Indonesia itu. Orang yang berbuat kebaikan adalah orang berhak dikucilkan, menurut pendapat generasi – generasi sekarang.
24 April, 2007 pukul 2:57 pm
Meskipun kebaikan itu relatif, namun kebanyakan orang memang langsung menganggap ‘perbuatan-yang-kita-anggap-sebuah-kebaikan’ itu sebagai tindakan sok suci seperti yang Unca Scrooge katakan.
Apa ini termasuk tsuudzon wajib versi Mr. Geddoe?
24 April, 2007 pukul 3:00 pm
Teruskan combo-nya ke ke konformitas! Huahahaha!
Btw, tulisan ini bisa diarahkan ke suatu permasalahan yang sedang hangat saat ini
24 April, 2007 pukul 4:34 pm
Yah, intinya adalah memilah mana yang munafik, mana yang bukan. Sekarang ini label munafik terlalu sering di-abuse dan kelompok mayoritas sering ramai-ramai saling memberi pembenaran.
Untuk Mr. Geddoe:
Betul juga. Kebetulan sekali ya, padahal artikel ini termasuk dari “antrian tiga artikel” tempo hari. Ah, Andai saya menaruh tulisan ini sehari lebih cepat…
Wah, kurang ajar! Ini bukan blog promosi!
*melihat tulisan “konformitas” dalam artikel*
Sial
Untuk Shan-in Lee:
Mungkin lebih ke arah tsuudzon makruh ya?
Walah, bisa-bisa lima klasifikasi itu menjadi populer.
24 April, 2007 pukul 7:35 pm
Benar. Di sini kesannya masyarakat menganggap semua bentuk kebaikan adalah kemunafikan — bagi mereka tidak ada orang baik. Kalau ada yang terlihat baik, hanya berpura-pura. Apa begitu?
Makanya jangan menjadi pemalas…
*mengulurkan tangan dengan angkuh*
Tanda jasa. Tanda jasa.
*dibakar massa*
25 April, 2007 pukul 3:31 pm
@ deathberry
Yah, itulah Indonesia dengan “beragam” jenis manusia. Tanya Kenapa
@ Geddoe
GRRRRRRRAHHHHHH!!!!
Lagi2 dibakar massa. Padahal kemarin udah kucuri True Fire Rune, biar ga jadi “Flame Champion” lagi. Atau sekalian aja kucuri True Lightning Rune?
25 April, 2007 pukul 6:19 pm
Walah, komentar dikomentari, artikel saya tak diacuhkan… *keluh*
25 April, 2007 pukul 10:56 pm
26 April, 2007 pukul 10:07 pm
weleh media dan berita pagi toh bisa dgn mudah dipelintir, negatifitas?
lha jangankan berbuat jelek, berbuat baik sekalipun bisa disalah artikan,
28 April, 2007 pukul 11:54 am
apakah jika saya setuju dengan tulisan ini, saya juga dianggap munafik?
tulisan yang dimaksud : > : http://jonru.multiply.com/journal/item/249
28 April, 2007 pukul 12:34 pm
Untuk peyek:
Hohoho! Orang biasanya senang kalau orang lain berbuat salah, membuat diri sendiri merasa lebih “baik”. Mungkin karena itu…
Untuk halludba72623:
Eh… itu tergantung persepsi mana yang baik dan mana yang tidak. Saya sendiri netral mengenai hal tersebut selama tidak ada orang tak bersalah yang dirugikan.
30 April, 2007 pukul 2:18 am
karena watak orang Indonesia yang sulit melupakan sesuatu mas ya? (tapi heran kenapa ya kita tidak pernah belajar dari masa lalu?)
karena selama ini udah terlalu sering orang yang berbuat baik ternyata (in some ways) munafik. Akhirnya orang sering berprasangka buruk dengan orang yang mau berbuat/berkata baik
akhirnya hal itulah yang memicu orang untuk ragu-ragu mengutarakan hal positif apabila tidak memberikan “disclaimer” terlebih dahulu.
Tapi kalo saya malah justru cenderung tidak percaya dengan orang yang mengawali kata-katanya dengan frase “terus terang”, “jujur ya”, “maaf, bukannya munafik”, “sebenarnya ini rahasia”……… dll
30 April, 2007 pukul 6:45 am
Tergantung juga sih. Bisa saja orang yang mengawali perkataannya dengan frase seperti itu sebenarnya terlalu banyak berpikir mengenai tanggapan orang-orang. Maklumlah, manusia.
Yah, namun kalau frase awalnya adalah “bukannya mau sombong,” biasanya saya juga langsung antipati.
30 April, 2007 pukul 8:51 pm
“bukannya mau sombong?” betul juga, itu membuat saya antipati. Sebab kebanyakan dari yang memakai kata itu (kebanyakan lho…) untuk menjustifikasi rasa sombongnya, dan tentu saja untuk alasan konformitas (bener ga nih?).
Padahal bagi manusia, sombong itu sangat, sangat, sangat besar bahanyanya
.
1 Mei, 2007 pukul 5:32 am
Jangan tsuudzon begitu ah.
Saya pribadi tidak pernah bertemu dengan orang yang memakai frase “bukannya mau sombong” tersebut dengan sungguh-sungguh. Seluruhnya memang orang yang mau menyombong. Tapi seluruhnya pula adalah teman baik yang memang setengah bercanda, jadi lebih bisa dimaklumi.
3 Mei, 2007 pukul 11:54 am
Ma setuju komen mas mardun,, “terus terang”, “jujur ya”, “maaf, bukannya munafik”, “sebenarnya ini rahasia”,, ga penting,, hehehehehe,,
kalo Ma ga mau nyontek ya ngga nyontek (Ma nyontek kok,,),, ga suka gosip ya ga ngegosip (sayangnya yang ini beraatt banget!!!!!!!!),, takut dianggep munafik?? bodo’,, Ma yang aneh,,
5 Mei, 2007 pukul 7:29 pm
Hmmm…
Ga mau komen ah, takut dikira munafik
….bercanda….
Yap, jujur saya tahu (berdasarkan pengalaman pribadi) bahwa manusia tuh pada dasarnya selalu ingin mencari kejelekan orang lain. Tujuannya sederhana, biar orang lain ga tahu kejelekan dia sendiri. Dengan begitu, he still gets the attentions.
Sama seperti orang yang ngasih label ‘munafik’ kepada orang yang berbuat baik (padahal yang dikasih label ini bener2 tulus niatnya). Dia ga suka orang2 pindah ke lain hati selain dirinya, trus dia dengan seenak udelnya ngasih label ‘munafik’ ke orang2 yang ga munafik, just to make that person a subject of hatred.
*tuh kan sekarang saya suudzon*
Intinya, manusia itu paling takut ama kehilangan orang2 yang terdekat. In order to prevent that, dia nuduh orang munafik biar perhatian orang2 masih terarah pada dirinya.
…self-centered banget ya?
11 Juni, 2007 pukul 8:22 am
Wah, masa? Begitu ya?
Munafik kamu!Sejujurnya, saya tidak pernah memperhitungkan kemungkinan itu. Hmm… sudut pandang yang menarik…
11 Juli, 2007 pukul 3:51 pm
waw~
keren2,,
hue2
sbg seorang pelajar (hihi), saya jelas menghadapi situasi semacam itu. tapi kalo temen2 saya yg jujur sih cenderung diem kalo lagi ada tmen2 yg cerita masalah nyontek. masalahnya ya itu tadi, males lah dianggap sok suci. haha..
klo masalah karakteristik, kemarin baru tau (abis baca pengantar di sebuah buku fiksi), ternyata manusia INDONESIA (beneran ditulisnya INDONESIA, bukan manusia jaman sekarang ato dll) tidak pernah disuguhi tayangan ato bacaan dg kualitas perilaku si tokoh utama yg mulia. jadi suka heboh sendiri kalo ada manusia ‘malaikat’ di sekitarnya. duwh, kasian juga sih ternyata..
btw, salam kenal yhaa, om (?)
3 Desember, 2007 pukul 2:28 am
[...] Maaf, Bukannya Saya Munafik, Tapi…. Maaf, Bukannya Saya Munafik, Tapi…. [...]
23 Januari, 2008 pukul 12:59 pm
he eh, kalau orang berbuat sesuai nuraninya, kenapa harus dipakein istilah munafik? Bukankah lebih munafik orang yang tahu suatu hal ga bener tapi masih dilakuin, dengan menepuk dada pula.
*tapi kayanya lebih susah maen curang daripada maen bersih sih ya? Nyontek kan perlu keahlian lebih. Kalau jujur mah tinggal belajar yang serius malem sebelum ujiannya, hehehe.
29 September, 2008 pukul 2:14 am
[...] lo” ini begitu mudah dilontarkan ya? Lha, orang maksudnya mau berbuat baik, kok belum-belum sudah dituduh macam-macam. Mau ngejawab kayak gimana juga jadi [...]